— jenis tulisan —
Puisi (12)
Enam puisi tentang Tangerang yang ditulis pelan, dengan setting nyata. Cisadane, BSD, Karawaci, Pasar Lama, tol Jakarta-Merak. Setiap tempat punya bobotnya sendiri.
Pasar Cipondoh Pagi
Pukul lima pagi di Pasar Cipondoh — pikulan sayur masuk lebih dulu daripada matahari, dan harga ditetapkan sebelum ada yang menawar.
Tol Merak Hari Kerja
Tol Merak hari Senin tidak macet seperti Jakarta-Cikampek. Sepi. Tapi setiap kendaraan yang lewat membawa cerita yang kita tidak akan pernah tahu.
Hujan di Bintaro
Hujan sore di Bintaro Sektor 7. Tukang bakso berhenti di bawah pohon. Anak SD pulang sekolah dengan plastik di kepala. Bukan keluhan, bukan romansa.
Ciputat Jam Lima Sore
Ciputat jam lima sore — mahasiswa UIN pulang, pekerja Bintaro pulang, pasar tradisional buka lagi setelah jeda siang. Tiga arus yang bertemu di satu pertigaan.
Anyer Bukan Wisata
Anyer untuk turis adalah pantai. Anyer untuk nelayan adalah pekerjaan. Anyer untuk yang lahir di sini adalah rumah yang setiap tahun berubah karena pembangunan.
Stasiun Tigaraksa Malam
Stasiun Tigaraksa pukul sebelas malam — peron satu, kereta terakhir ke Maja, tukang bakso di luar stasiun yang sudah hafal jadwal.
Cisadane Sore Hari
Sungai yang lebih tua dari kota ini — yang sudah hafal kapan jembatan dibangun dan kapan dirobohkan lagi.
Tol Jakarta-Merak, Hari Senin
Empat puluh kilometer yang ditempuh dalam tiga jam, dan kami semua memilih diam.
Karawaci, Pukul Tiga Pagi
Kota yang tidak pernah tidur, tetapi pukul tiga pagi terlihat seperti foto yang dibekukan.
Hujan di Gading Serpong
Hujan datang, mall yang biasa lengang tiba-tiba penuh — kota yang ternyata selalu butuh atap.
Pasar Lama Tangerang
Klenteng Boen Tek Bio, Cina Benteng, dan kota yang lahir tiga ratus tahun sebelum BSD.
BSD Malam Minggu
Kafe di BSD, pemuda yang ngobrol tentang startup di Jakarta, dan mimpi yang ngantri di tol.