puisi & refleksi dari Tangerang
Kota ini layak ditulis,
bukan hanya dilalui.
Saya tulis tentang Tangerang bukan karena ia indah, tetapi karena ia jujur.
Setiap minggu satu tulisan: bisa puisi, bisa hanya satu kalimat. Lokasinya nyata — Cisadane, Pasar Lama, BSD, Karawaci, tol Jakarta-Merak. Tidak ada metafora yang berlebihan; tidak ada eksotisasi. Hanya catatan dari orang yang tinggal di sini cukup lama untuk tahu mana yang bohong dan mana yang asli.
23
TULISAN
12
PUISI
11
KUTIPAN
— pilihan terbaru —
Cisadane Sore Hari
Sungai yang lebih tua dari kota ini — yang sudah hafal kapan jembatan dibangun dan kapan dirobohkan lagi.
baca lengkap →
Puisi (12)
semua puisi →Pasar Cipondoh Pagi
Pukul lima pagi di Pasar Cipondoh — pikulan sayur masuk lebih dulu daripada matahari, dan harga ditetapkan sebelum ada yang menawar.
Tol Merak Hari Kerja
Tol Merak hari Senin tidak macet seperti Jakarta-Cikampek. Sepi. Tapi setiap kendaraan yang lewat membawa cerita yang kita tidak akan pernah tahu.
Hujan di Bintaro
Hujan sore di Bintaro Sektor 7. Tukang bakso berhenti di bawah pohon. Anak SD pulang sekolah dengan plastik di kepala. Bukan keluhan, bukan romansa.
Ciputat Jam Lima Sore
Ciputat jam lima sore — mahasiswa UIN pulang, pekerja Bintaro pulang, pasar tradisional buka lagi setelah jeda siang. Tiga arus yang bertemu di satu pertigaan.
Anyer Bukan Wisata
Anyer untuk turis adalah pantai. Anyer untuk nelayan adalah pekerjaan. Anyer untuk yang lahir di sini adalah rumah yang setiap tahun berubah karena pembangunan.
Stasiun Tigaraksa Malam
Stasiun Tigaraksa pukul sebelas malam — peron satu, kereta terakhir ke Maja, tukang bakso di luar stasiun yang sudah hafal jadwal.
Cisadane Sore Hari
Sungai yang lebih tua dari kota ini — yang sudah hafal kapan jembatan dibangun dan kapan dirobohkan lagi.
Tol Jakarta-Merak, Hari Senin
Empat puluh kilometer yang ditempuh dalam tiga jam, dan kami semua memilih diam.
Karawaci, Pukul Tiga Pagi
Kota yang tidak pernah tidur, tetapi pukul tiga pagi terlihat seperti foto yang dibekukan.
Hujan di Gading Serpong
Hujan datang, mall yang biasa lengang tiba-tiba penuh — kota yang ternyata selalu butuh atap.
Pasar Lama Tangerang
Klenteng Boen Tek Bio, Cina Benteng, dan kota yang lahir tiga ratus tahun sebelum BSD.
BSD Malam Minggu
Kafe di BSD, pemuda yang ngobrol tentang startup di Jakarta, dan mimpi yang ngantri di tol.
Kutipan (11)
semua kutipan →Tangerang Bukan Jakarta
Tangerang bukan Jakarta. Bukan pengganti, bukan tetangga, bukan kerabat — Tangerang adalah dirinya sendiri.
Sungai Mengingat
Yang ingin tahu sejarah kota, ikuti sungainya. Sungai selalu mengingat lebih banyak daripada gedung.
Hujan Tidak Pilih Orang
Di Tangerang yang banjir, hujan tidak pilih orang. Yang punya garasi dan yang tidur di gang sama-sama basah.
Macet sebagai Pengingat
Macet adalah pengingat bahwa kita tidak sepenting yang kita kira. Kota tidak menunggu kita.
Pasar Lama vs Mall
Pasar Lama tidak harus seperti mall untuk tetap penting. Mall berusaha jadi pasar lama. Tidak pernah sebaliknya.
Kota Tempat Lahir
Kota tempat lahir tidak harus indah untuk dicintai. Cukup tahu di mana yang pernah jadi kebun karet, dan cukup.
Bukan Pusat Satu-satunya
Yang menulis sejarah kota ini bukan hanya gedung di Jakarta.
Cisadane Mengajari Sabar
Sungai tidak pernah terburu-buru, tetapi selalu sampai.
Demokrasi di Tol Merak
Semua sama-sama miskin waktu — satu-satunya bentuk demokrasi yang masih tersisa.
BSD dan Karawaci
BSD adalah etalase. Karawaci adalah lemari.
Mulai dari Pasar Lama
Yang ingin tahu kota ini, mulailah dari Pasar Lama — bukan dari mall.