Stasiun Tigaraksa · 30 Mei 2026
Stasiun Tigaraksa Malam
Stasiun Tigaraksa pukul sebelas malam. Peron satu kosong. Lampu kuning yang sudah lama tidak diganti.
Kereta terakhir ke Maja akan datang sepuluh menit lagi. Penumpang: tujuh orang. Saya hitung dari kursi tunggu.
Salah satunya: ibu-ibu yang tertidur bersandar di tas plastik berisi sayuran, mungkin pulang dari pasar Tanah Abang yang sudah dia datangi sejak pukul dua subuh.
Yang lain: anak muda dengan earphone, mata setengah terbuka, mungkin pulang shift kerja kafe di BSD.
Di luar stasiun, tukang bakso keliling parkir gerobaknya di tempat yang sama seperti kemarin malam, hafal jadwal kereta terakhir.
Dia jualan satu-dua mangkok lagi, penumpang yang turun dari Maja yang ingin makanan panas sebelum naik motor ke kampung.
Stasiun Tigaraksa pukul sebelas malam adalah salah satu titik akhir Jabodetabek. Setelah ini, tidak ada lagi kereta. Hanya motor, mobil, dan kaki yang bisa membawa orang pulang.
Itu juga sebenarnya cukup.
Stasiun Tigaraksa pukul sebelas malam — peron satu, kereta terakhir ke Maja, tukang bakso di luar stasiun yang sudah hafal jadwal.
— ditulis dari Stasiun Tigaraksa
oleh Sekar Wulandari